|
Anggie Setia Pendiri Sekolah
Anak Jalanan
Sabtu pagi lima tahun
lalu.
Seorang gadis 15 tahun,berseragam sekolah, tiba-tiba turun dari bus yang
ditumpanginya, sebelum tiba di tujuan.
Seorang pengemis cilik yang berdiri di kolong jembatan layang mengundang
perhatiannya.
Gadis itu tak mengenalnya,bahkan mungkin baru saat itu melihatnya, namun
pagi itu ia ingin menyapanya.
"Lo mau sekolah?" begitu pertanyaan pertama yang ia lontarkan.
"Napah?" tanya pengemis cilik itu dengan ketus, tanpa melihat
lawan bicaranya.
"Gue mau ngajarin lo."
"Bohong!"
"Kalau gak percaya, besok kita ketemu di sini lagi jam 11.00."
Gadis itu tak ingkar.
Esoknya ia datang lagi. Kali ini dengan dua hadiah di tangannya.
Pensil dan buku? Bukan, tapi shampo dan permen.
"Lo keramas, ya,"katanya setelah memberikan hadiah pertama.
Untuk hadiah kedua, bocah berusia delapan tahun itu enggan mengambilnya.
"Ada obatnya, gak?" tanyanya penuh curiga.
Kecurigaan baru hilang setelah gadis itu memakan salah satu permen itu.
Saat bertemu lagi sepekan kemudian, penampilan bocah itu sudah berubah,
lebih bersih (pasti karena sampo tempo hari) dan mau tertawa.
"Lo kok sudah mau ketawa sama gue?" tanya sang gadis.
"Lo gak bohong." Di jalanan, kepercayaan memang mahal.
Selanjutnya, setiap akhir pekan gadis itu datang ke kolong jembatan layang
itu untuk membagi ilmu kepada bocah itu dan teman-temannya.
Ia memompa motivasi mereka dan bercerita tentang negara-negara di seberang
lautan yang tertulis di koran yang mereka jual.
Sesekali para preman datang dan menggangu, namun ia tak berhenti.
Kisah gadis belia itu tak akan kita jumpai di novel chicklit dengan sampul
berwarna pink.
Tidak juga kita tonton di sinetron.
Ini adalah kisah nyata yang dialami oleh Anggie
Setia yang saat itu masih menjadi murid kelas dua SMK Negeri 8, Pejaten,
Jakarta.
Kini, setelah lima tahun, Anggie tetap datang ke kolong jembatan layang
itu. Bahkan ia juga membuka sekolah untuk anak tak mampu di tiga tempat
lain:pinggir kali Pasar Minggu, perkampungan kumuh Menteng
Atas, dan di Desa Limo, Cinere.
Masing-masing 30-40 murid.
Hebatnya, mulai dari mencari murid, membuka kelas, hingga mengajar, ia
lakukan sendiri.
Baru pekan lalu ia mendapat bantuan tenaga dari anggota milis Radio
Prambors.
Empat kali terserang tipus tak menyurutkannya.
"Kata temen gue, sekali lagi kena tipus, gue mampus hahaha..."
Ia juga yang mendanai sendiri seluruh "sekolah" yang didirikannya,
termasuk membelikan muridnya buku dan alat tulis lainnya.
Untungnya, sejak sekolah ia telah memiliki penghasilan sendiri hingga
tak perlu meminta sepeserpun dari orangtua untuk aktivitasnya.
Kesibukannya kini sebagai office manager pada sebuah kontraktor minyak
tidak membuatnya kendur.
Ia tetap seperti dulu: tiba-tiba berbelok ke kawasan kumuh dalam perjalanan
pulang kantor, hanya untuk menanyakan apakah anak-anak di sana sudah bersekolah.
Sumber : Koran
Tempo, Jakarta, Qaris
|